Arsip · cerita

Perpustakaan Cerita

06 Sep 2026
← Kembali ke daftar

Postur Paling Jujur

Pohon beringin di simpang itu sudah berdiri empat ratus tahun, dan satu-satunya hal yang membuatnya iri adalah udang rebus.

Setiap sore Pak Sarno menggelar dagangannya di bawah naungan akar-akar gantung. Ia merebus udang di panci kecil, dan beringin memperhatikan—karena beringin tidak punya kerjaan lain selain memperhatikan. Ia melihat bagaimana udang, begitu air mendidih, melengkung. Sempurna. Tanpa ragu. Seolah seluruh hidup mereka adalah persiapan untuk satu gerakan anggun itu: menekuk diri saat panas datang.

Beringin tidak bisa menekuk.

Ketika kemarau membakar tanah tahun 1962, ia hanya bisa berdiri. Ketika petir menyambar dahan utaranya, ia berdiri. Ketika orang-orang mengikatkan kain merah dan meletakkan sesajen dan berbisik minta nomor togel, ia berdiri, menahan segalanya, karena itulah satu-satunya yang bisa dilakukan pohon: tetap tegak sampai tumbang.

"Enak jadi kamu," pikir beringin pada udang di panci. "Kamu boleh menyerah dengan indah."

Pak Sarno tidak tahu pohon di atasnya sedang cemburu pada dagangannya. Ia hanya tahu tempat ini teduh, dan pembeli suka duduk di akar yang menjuntai seperti bangku. Selama tiga puluh tahun ia berjualan di situ. Anaknya lahir, besar, pergi ke kota. Istrinya meninggal. Pancinya berganti empat kali. Beringin menyaksikan semuanya, diam, tegak.

Suatu sore Pak Sarno tidak datang. Juga sore berikutnya.

Beringin menunggu. Ia pandai menunggu; itu satu-satunya keahliannya. Musim berganti. Akar-akarnya turun perlahan, tahun demi tahun, mendekati tanah tempat panci itu dulu mendidih—melengkung ke bawah, pelan sekali, seperti sesuatu yang akhirnya belajar cara menekuk.

Butuh empat ratus tahun bagi beringin untuk mengerti bahwa ia pun, sepanjang itu, sedang perlahan-lahan menyerah. Hanya saja terlalu lambat untuk disebut anggun.


Kata-kata yang dipakai: beringin, udang rebus