Arsip · cerita

Perpustakaan Cerita

07 Sep 2026
← Kembali ke daftar

Pelangi Karantina Pelabuhan

Petugas bea cukai bernama Joko menghela napas panjang. Ia mengusap keringat di dahi dengan lengan baju hazmat yang sengaja tidak dikancingkan penuh karena AC ruangan rusak. Mata sayunya menatap lekat pria berkemeja pantai di seberang meja.

"Satu ton uranium murni tingkat senjata," gumam Joko sambil membaca lembar manifes.

Tanpa ragu, ia menghantamkan stempel hijau bertuliskan 'DISETUJUI' ke atas dokumen tersebut. "Pajak barang mewah lunas. Protokol radiasi lengkap. Tidak ada masalah."

Pria bernama Haris itu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi yang terlalu putih. "Terima kasih, Pak. Bisa saya bawa pulang kargonya sekarang?"

"Sebentar." Telunjuk Joko mengetuk tajam pada kolom B di kertas yang sama. "Di baris ini Anda mendeklarasikan seekor gajah Afrika bersertifikat."

Haris menggaruk lehernya dengan santai. "Oh, itu cuma promosi akhir tahun dari pemasok saya. Beli bahan bakar reaktor, gratis satwa eksotis."

Joko melepas kacamata bacanya, melongok ke luar jendela pelabuhan. Di sebelah tumpukan palet kayu, makhluk raksasa itu berdiri dengan sangat tenang. Belalainya sedang melilit sebuah drum baja. Kulit tebalnya memancarkan pendar cahaya hijau yang sangat tipis namun tak terbantahkan.

"Begini, Pak Haris," nada suara Joko terdengar seperti seorang pria yang sudah lama kehabisan harapan hidup. "Bahan radioaktif Bapak silakan diangkut hari ini juga. Negara tidak berhak menahan hak milik warga yang taat administrasi. Tapi untuk mamalia darat raksasa ini, Anda belum melampirkan surat lolos karantina dari kementerian hewan."

"Ayolah, Pak. Bisa tidak dia dihitung sebagai wadah penyimpanan sekunder saja? Dia sudah menelan dua batang timah di kapal tadi. Hitung-hitung dia sekarang bagian dari kemasan pelindung."

Joko menggeleng tegas. Ia merobek selembar surat penangguhan merah muda dan menyerahkannya tanpa ekspresi.

Di luar jendela, hewan itu menyemburkan air selokan ke udara, menciptakan pelangi kecil yang mematikan di bawah sinar matahari sore. Haris menggerutu kesal, melangkah pergi menuju loket perizinan hewan dan meninggalkan kargo kiamatnya teronggok tanpa pengawasan di area parkir terbuka.

Joko menyeruput kopi dinginnya perlahan, menatap pelangi tersebut dalam diam. Ada ketenangan aneh yang menyelimuti hatinya sore itu, terutama saat menyadari bahwa akhir dunia ternyata tidak pernah menakutkan, asalkan ia didaftarkan pada tumpukan formulir yang tepat.


Kata-kata yang dipakai: gajah, uranium