Arsip · cerita

Perpustakaan Cerita

07 Sep 2026
← Kembali ke daftar

Yang Berendam di Balik Pagar

Pak Warno menuding meteran itu berputar terlalu kencang. Petugas mengetuk kaca bulatnya dengan kuku. Angka tetap melompat.

"Sebulan tiga kali lipat. Rumah saya cuma diisi kompor dan satu ember."

Di seberang pagar, Bu Sri menyiram anggrek yang sudah basah kuyup.

Malam itu ia berjaga di dekat keran belakang. Rumput di tepi selokan rebah, membentuk lorong licin berbau lumpur. Pukul dua, kawat pagar melengkung ke dalam. Sesuatu sebesar anak babi menyelinap, moncongnya menekan tuas keran sampai air mendesis ke dalam bak plastik.

Bak yang bukan miliknya.

Kapibara itu berendam, menghadap rumah sebelah. Menunggu. Setiap kali bak penuh, sebuah ember terulur dari celah pagar dan mencidukinya. Ciduk. Ciduk. Ciduk.

Warno tidak mengetuk pintu tetangganya.

Pagi buta ia menggembok keran. Lalu berdiri lama di depan meteran air yang selama ini ia kira berbohong.


Kata-kata yang dipakai: kapibara, meteran air