
Elastisitas
Setiap orang yang keluar dari kantor itu diberi sebuah karet gelang, dan tak seorang pun ingat sejak kapan aturan itu ada.
Aku bekerja di lantai empat, bagian yang tak punya nama di struktur perusahaan. Tugasku sederhana: berdiri di dekat pintu keluar, dan sebelum siapa pun pulang, aku memasangkan karet gelang di pergelangan mereka. Warnanya cokelat pucat, tipis, jenis yang biasa dipakai untuk mengikat tumpukan uang atau sayur di pasar.
"Untuk apa ini?" tanya karyawan baru, selalu.
"Supaya kamu ingat kembali," jawabku, karena begitulah yang diajarkan kepadaku.
Mereka tak pernah bertanya "ingat apa". Mereka memakainya, keluar, dan besoknya datang lagi dengan karet yang sama, kini agak melar, warnanya lebih tua. Setiap hari melar sedikit. Ada yang karetnya sudah menggantung longgar seperti gelang emas warisan—maaf, seperti sesuatu yang terlalu sering ditarik.
Pak Wibisana punya karet paling tua di gedung ini. Dua puluh tiga tahun. Karetnya sudah setipis benang, melar sepanjang lengan, dan ia menggulungnya berkali-kali agar tidak lepas. Ia datang paling pagi, pulang paling malam, dan setiap kali melewati pintu keluar ia menyodorkan pergelangan tangan kepadaku, meski karetnya masih ada di sana.
"Yang baru, dong," katanya kemarin. "Yang ini sudah tidak menahan apa-apa."
Aku bilang aturannya satu orang satu karet. Seumur bekerja.
Ia menatap karet melar itu lama sekali. Menariknya sekali, pelan, lalu melepaskannya—dan tidak ada bunyi. Karet yang terlalu lama melar berhenti bisa memantul. Ia sudah lupa bentuknya yang semula.
"Dulu ini kencang sekali," katanya. "Sampai sakit kalau ditarik."
Ia keluar. Aku melihatnya berjalan ke parkiran, di bawah lampu, satu lelaki dengan seuntai karet mati di tangan yang dulu, katanya, cukup kuat untuk menahannya agar selalu kembali.
Pagi ini kursinya kosong. Karetnya tergeletak di meja, akhirnya putus. Aku memungutnya. Ringan sekali—seolah beban satu-satunya adalah mengingat pernah ada sesuatu yang ditahannya.
Kata-kata yang dipakai: karet gelang, pintu keluar