
Suara yang Tidak Pernah Dipesan
Pak Hendra sudah tiga minggu menjadi sound designer untuk dokumenter alam ketika ia menyadari masalahnya: lebah-lebah itu tidak mau berbunyi sesuai jadwal.
"Kita butuh bzzz di detik 00:14," katanya ke asisten produksi, seorang mahasiswa magang bernama Rifki yang wajahnya selalu terlihat seperti baru saja membaca email buruk.
"Lebahnya tidak bisa di-brief, Pak."
"Semua bisa di-brief. Saya pernah brief badai."
Rifki tidak bertanya bagaimana caranya. Ia sudah belajar untuk tidak bertanya.
Yang terjadi kemudian adalah Pak Hendra menghabiskan empat jam di studio, melapisi rekaman kepak sayap lebah dengan synth bass frekuensi rendah, lalu menambahkan reverb ruangan yang ia labeli "padang bunga — sore — sedikit mendung." Hasilnya luar biasa. Emosional. Bahkan direktur kreatif yang biasanya hanya mengangguk sambil menatap ponselnya ikut mendongak.
"Ini terasa... nyata," kata direktur itu.
"Memang nyata," jawab Pak Hendra. "Saya rekam langsung."
"Tapi lebahnya terdengar seperti sedang merindukan sesuatu."
Pak Hendra membuka mulut, lalu menutupnya. Ia ingat hari rekaman itu — ia baru saja bertengkar dengan istrinya di telepon, lalu pergi ke taman belakang kantor dengan mikrofon boom dan duduk di dekat bunga-bunga yang tidak ia ketahui namanya. Lebah-lebah datang. Ia diam. Mereka juga, dalam artian mereka tetap berbunyi tapi entah kenapa tidak terasa seperti gangguan.
Ia tidak pernah menceritakan ini ke siapapun.
"Lebah memang begitu," katanya akhirnya. "Mereka tidak punya mekanisme untuk pura-pura baik-baik saja."
Rifki mengetik sesuatu di laptopnya. Mungkin catatan produksi. Mungkin surat pengunduran diri. Pak Hendra tidak peduli.
Dokumenternya tayang enam bulan kemudian. Di kolom komentar, satu penonton menulis: "Entah kenapa bagian lebahnya bikin saya nangis. Apakah ini normal?"
Pak Hendra membaca komentar itu tiga kali, lalu menutup laptopnya dan pergi menelepon istrinya.
Bukan untuk minta maaf. Hanya untuk mendengar suaranya.
Kata-kata yang dipakai: lebah, sound effects