Arsip · cerita

Perpustakaan Cerita

07 Sep 2026
← Kembali ke daftar

Saksi Bisu yang Tidak Bisa Diam

Sapi itu datang pada pukul tiga sore, masuk melalui pintu depan kantor seperti orang yang sudah hafal jalan, dan langsung duduk di kursi tunggu. Tidak ada yang bertanya apa-apa. Di Jakarta, ada semacam perjanjian tidak tertulis: kalau seseorang — atau sesuatu — duduk dengan cukup percaya diri, orang akan berasumsi ada yang mengundangnya.

Masalah baru muncul ketika Pak Ridwan, kepala divisi operasional, keluar dari ruangannya dan hampir tersandung alat pel yang tergeletak di tengah lorong.

"Siapa yang taruh ini di sini?" teriaknya ke arah ruangan kosong.

Sapi itu mengangkat kepala.

"Bukan aku," katanya. Suaranya berat tapi sopan, seperti pejabat daerah yang sedang diperiksa KPK.

Pak Ridwan menunjuk alat pel. "Kamu tahu siapa yang taruh ini?"

"Tahu."

"Siapa?"

"Bu Lastri. Tapi dia sudah keluar tadi."

Pak Ridwan menarik napas panjang. Ini bukan yang paling aneh yang terjadi minggu ini — Senin lalu proyektor rapat menampilkan semua slide dalam format cermin dan tidak ada yang komplain sampai presentasi selesai. "Kenapa kamu di sini?" tanyanya akhirnya.

"Saya punya janji dengan HRD."

"Untuk?"

"Interview."

Pak Ridwan menatap sapi itu lama sekali. Lalu menatap alat pel. Lalu kembali ke sapi. Ada sesuatu yang mengganggu, tapi bukan tentang sapi itu — lebih kepada kenyataan bahwa alat pel sudah tiga minggu di lorong itu dan baru sekarang ada yang terantuk, justru karena ada sapi yang duduk di kursi tunggu dan menarik perhatian ke arah yang berbeda.

"HRD ada di lantai tiga," kata Pak Ridwan akhirnya.

"Lift-nya muat?"

"...Pakai tangga darurat."

Sapi itu mengangguk, berdiri, dan berjalan menuju tangga dengan langkah yang sangat administratif. Pak Ridwan memungut alat pel dan menyandarkannya ke tembok — hal pertama yang benar ia lakukan hari itu, karena alasan yang sepenuhnya salah.

Di kantornya, ada hal-hal yang menunggu bertahun-tahun untuk diperhatikan. Mereka hanya perlu ditemani oleh sesuatu yang cukup ganjil agar terlihat.


Kata-kata yang dipakai: sapi, alat pel