Arsip · cerita

Perpustakaan Cerita

07 Sep 2026
← Kembali ke daftar

Bintang Jatuh, Tapi Ke Mana

Laila sudah menunggu tiga puluh dua menit untuk bintang jatuh yang ketiga. Bukan karena ia percaya mitos. Ia hanya butuh angka ganjil untuk membuat permintaannya terasa serius.

Permintaan pertama: supaya Randi mau balik.

Permintaan kedua: supaya ia bisa lupa soal permintaan pertama.

Tapi sebelum bintang ketiga muncul, seekor lalat mendarat di hidungnya.

Laila diam. Lalat itu juga diam. Keduanya seperti sedang menunggu keputusan dari pihak yang lebih berwenang.

"Pergi," bisik Laila.

Lalat itu bergeser tiga milimeter ke kiri. Ini, di alam semesta lalat, mungkin setara dengan aku dengar, tapi aku tidak setuju.

Laila menatap langit lagi. Di sana, satu bintang bergerak — lambat, terlalu lambat untuk disebut jatuh, lebih mirip bintang yang sedang berpikir apakah perlu jatuh atau tidak.

"Itu bintang jatuh?" tanya Laila ke lalat.

Lalat itu terbang sebentar lalu mendarat kembali, kali ini di alis kiri.

Laila memutuskan itu pertanda: ya.

Ia pejamkan mata. Permintaan ketiga sudah ia siapkan sejak tadi, sudah ia edit delapan kali dalam kepala, sudah ia pertimbangkan dari berbagai sudut termasuk kemungkinan efek sampingnya terhadap karma jangka panjang.

Tapi yang keluar dari mulutnya hanya:

"Aku mau makan soto."

Ia buka mata. Bintang itu sudah tidak bergerak. Lalat itu juga pergi entah ke mana.

Laila duduk sebentar di gelap, lalu sadar bahwa dua permintaan sebelumnya — yang ia susun dengan begitu hati-hati, dengan begitu banyak rasa — menguap begitu saja begitu ada satu kebutuhan yang lebih nyata dan lebih jujur.

Ia pulang.

Di warung pojok yang masih buka, ia pesan soto. Panas. Dengan jeruk nipis ekstra.

Rasanya tidak menyelesaikan apapun. Tapi cukup untuk malam ini, dan malam ini, ternyata, adalah satuan waktu yang sudah lama tidak ia hargai.

Di luar, seekor lalat hinggap di lampu warung. Mungkin lalat yang sama. Mungkin bukan. Tapi ia menyala di bawah cahaya itu seperti sesuatu yang kecil dan tidak penting dan, justru karena itu, bebas.


Kata-kata yang dipakai: bintang, lalat