Pak Suherman menemukan cumi-cumi itu di kursi belakang sepedanya pada suatu Selasa, dan yang paling mengganggunya bukan basah-nya jok, melainkan fakta bahwa cum…
Petugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana itu menyodorkan clipboard ke arah Hendra dengan ekspresi seseorang yang sudah lama berdamai dengan hidupnya.
Pak Ruswanto menemukan bahwa jam tangannya berhenti tepat ketika ia memesan nasi goreng spesial di warung Bu Lastri.
Suatu pagi, Pak Warno menemukan bahwa tas punggungnya bisa berbicara.
Warisan terbesar Pak Tomo adalah sebuah kamera Kodak tahun 1987 dan satu botol kaca yang masih ada tutup logamnya. Tidak ada uang. Tidak ada properti. Hanya dua…
Seorang pria bernama Gunarto Welas sedang membangun tembok di halaman rumahnya ketika tetangganya, Pak Dodit, muncul dengan ekspresi orang yang baru saja menemu…
Pak Gun sudah tiga tahun jadi tukang sapu di taman kota, dan tugas utamanya hanya satu: mengejar daun kering. Bukan menyapunya. Mengejarnya. Sebab setiap kali i…
Kapten Hendriansyah sudah tiga puluh tahun berlayar ketika dia akhirnya mengakui bahwa penumpang paling menyebalkan dalam kariernya bukan manusia.
Pesta itu mulai pukul delapan. Langit sudah kelam sejak pukul enam, tapi tidak ada yang mengundangnya, jadi tidak ada yang merasa perlu menjelaskan apa-apa.
Jerapah itu sudah berdiri di tepi lumpur selama empat puluh menit. Bukan karena takut. Bukan karena ragu. Tapi karena secara anatomis, untuk minum dari genangan…
Pak Warso berjualan donat di pertigaan itu selama dua puluh tiga tahun. Bukan di pojok, bukan di sisi mana pun — tepat di tengah pertigaan, di pulau kecil tempa…
Budi baru saja menyalakan mobilnya ketika bayam di kursi penumpang mulai bicara.
Pak Sukro membangun roket dari tangki air dan kesabaran selama empat puluh tahun, di pinggir kolam pancingnya yang sepi.
Elang itu sudah bernegosiasi selama empat puluh menit.
Pak Rustam tiba di garis start pukul 11:57 dengan satu bungkus Indomie goreng panas di tangan — masih mengepul, garpu masih menancap.
Pak RT Suwarno sudah membungkuk tiga kali ketika menyadari tidak ada yang membalas.
Pak Sumarno membuka warung sate ayam-nya jam lima sore dengan keyakinan penuh bahwa hari itu akan biasa saja. Ia salah.
Kalkun bernama Presiden itu selalu tahu. Bukan karena ia pintar — ia tidak pintar, ia seekor kalkun — tapi karena setiap November, manusia mulai melakukan ritua…
Namanya Rem. Bukan nama resmi — karena nama resminya terlalu panjang dan ditulis dalam bahasa yang hanya dimengerti peternak Siberia dan sistem pendaftaran anji…
Petugas sensus itu datang ke pulau kecil itu dengan formulir tujuh lembar dan keyakinan penuh bahwa pekerjaannya akan selesai sebelum makan siang.
Badai itu datang pada Selasa pagi dan langsung meminta diakui secara resmi.
Pak Darto sudah tiga belas tahun menjual pepes ikan di peron stasiun. Setiap pagi, kereta api jurusan Surabaya berhenti tepat empat menit, dan dalam empat menit…
Marsi baru tersadar bahwa ia telah salah memilih planet ketika pesawat mendarat dan tidak ada yang menjual kopi susu.
Rinto sudah tiga tahun bekerja sebagai penerjemah untuk Proyek ARIA — sebuah AI yang diklaim bisa memahami semua bahasa manusia, termasuk yang sudah punah. Tuga…
Pak Sutomo mengukur tinggi anaknya setiap minggu di pintu dapur, garis pensil bertumpuk seperti tahun yang lupa caranya berhenti. Tapi yang ini berbeda. Yang in…
Notaris itu datang pada Selasa pagi dengan satu koper kecil dan ekspresi seseorang yang sudah terlalu sering menyampaikan kabar aneh untuk merasa aneh lagi.
Pak Rustam sudah berdiri di tepi air terjun selama empat puluh menit, memegang kaleng balsem cap Elang yang hampir habis.
Paman Darto meninggalkan dua hal ketika dia mati: utang ke koperasi RT dan sepasang sepatu kulit yang, menurut pengakuan beliau sendiri sebelum meninggal, "lebi…
Pak Remon meninggal dan mewariskan satu hal kepada anaknya: seekor tikus yang tidak bisa mati.