
Warisan dalam 82 Derajat
Pak Reno mewariskan dua hal kepada anaknya sebelum meninggal: sebuah termos berwarna merah marun yang sudah penyok di bagian bawah, dan satu pesan terakhir yang disampaikan dengan napas tersengal — "Jangan pernah percaya ikan tongkol kaleng."
Selama tiga tahun, Dito menyimpan kedua warisan itu dengan sungguh-sungguh. Termosnya ia simpan di rak paling atas. Pantangannya ia pegang teguh, bahkan di warung nasi ketika pilihan hanya tongkol atau tongkol.
Masalahnya baru datang ketika Dito menikah.
Istrinya, Rara, adalah perempuan yang sangat efisien. Pada bulan pertama pernikahan, ia sudah mengklasifikasikan seluruh isi rumah menjadi tiga kategori: pakai, simpan, dan kenapa ini masih ada. Termos penyok masuk ke kategori ketiga dengan skor sempurna.
"Ini sudah tidak bisa jaga panas," kata Rara, mengguncang termos itu. Sesuatu bergemerincing di dalamnya. "Dan ada sesuatu di dalam."
Dito membuka tutupnya.
Di dasar termos, terendam dalam sisa-sisa karat dan bau tembaga, ada selembar kertas dilipat delapan. Tulisan tangan ayahnya, tinta biru yang sudah hampir hilang:
"Tongkol kaleng di dapur itu sudah kadaluarsa sejak 2019. Jangan dimakan. Mama yang beli, tapi lupa dibuang. —Ayah"
Dito berdiri diam cukup lama.
Tiga tahun ia menolak tongkol. Tiga tahun ia menjadi manusia yang punya prinsip — yang susah diajak makan siang bareng karena selalu bertanya dulu laporannya segar atau kaleng, segar atau kaleng. Teman-temannya pikir ia punya trauma. Satu orang sempat menyarankan terapi.
Ternyata ayahnya cuma tidak mau buang makanan basi sendiri.
Rara memandangnya. "Jadi selama ini...?"
"Iya."
"Dan termos ini—"
"Cuma tempat nyimpen kertas."
Rara mengangguk pelan, lalu dengan sangat hati-hati meletakkan termos itu kembali ke rak paling atas.
"Simpan," katanya.
Dito tidak tanya kenapa. Ada hal-hal yang memang lebih baik diwariskan daripada dimengerti.
Kata-kata yang dipakai: termos, ikan tongkol