digital divide

ketimpangan akses informasi dan dampaknya pada kecerdasan populasi

digital divide
I

Pernahkah kita menyadari sebuah ironi yang lumayan menggelitik di zaman sekarang? Kita hidup di era di mana seluruh perpustakaan umat manusia bisa masuk ke dalam saku celana. Semuanya ada di situ. Dari cara membangun roket, sejarah runtuhnya Romawi, sampai resep membuat tempe mendoan. Tapi anehnya, kita justru sering merasa dikelilingi oleh obrolan yang makin dangkal dan misinformasi yang menyebar bagai api.

Kenapa bisa begini?

Mari kita mundur sedikit ke abad ke-15. Saat Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak, banyak cendekiawan yang kelewat optimis. Mereka mengira semua orang akan otomatis jadi pintar. Kenyataannya? Butuh berabad-abad sampai orang awam benar-benar punya akses ke buku sains yang berkualitas. Di awal-awal, mesin cetak justru lebih banyak dipakai untuk menyebarkan pamflet provokatif dan gosip politik. Hari ini, sejarah itu sedang terulang. Tapi kali ini, dampaknya pada otak kita jauh lebih mengerikan.

II

Selama ini, kalau bicara soal ketimpangan digital atau digital divide, kita sering salah fokus. Kita membayangkan perbedaan antara mereka yang punya smartphone keluaran terbaru dan mereka yang hapenya layarnya retak-retak. Atau antara yang punya Wi-Fi kencang dan yang harus ngirit kuota.

Padahal, masalah aslinya jauh lebih dalam dari sekadar urusan hardware. Ini adalah soal diet informasi.

Otak manusia itu luar biasa, tapi pada dasarnya ia punya sifat yang sangat efisien. Dalam bahasa yang lebih santai: otak kita itu pemalas. Secara psikologis, kita didesain oleh evolusi untuk mencari kalori—dan juga informasi—dengan usaha seminimal mungkin. Di sinilah letak masalah utamanya.

Saat kita menatap layar, kita sebenarnya tidak sedang mengakses internet yang sama. Internet teman-teman yang terbiasa membaca jurnal, artikel panjang, atau esai sains sangat berbeda dengan internet mereka yang sedari awal dicekoki algoritma video joget 15 detik dan drama artis. Kita hidup di satu bumi, tapi mengonsumsi realitas digital yang sama sekali berbeda.

III

Lalu, apa dampaknya kalau diet informasi yang jomplang ini diteruskan bertahun-tahun?

Kita harus berkenalan dengan sebuah konsep biologi bernama neuroplasticity. Otak kita itu seperti tanah liat. Ia berubah bentuk, menebal, atau menyusut berdasarkan apa yang rutin kita lakukan. Kalau kita terbiasa menganalisis argumen kompleks, jalur saraf untuk berpikir kritis kita akan makin kuat. Sebaliknya, kalau kita cuma pasrah disuapi konten instan yang memancing emosi murah, rentang perhatian kita pelan-pelan akan mati berkarat.

Sekarang, coba teman-teman bayangkan proses biologis ini terjadi serentak pada jutaan orang di satu negara.

Di satu sisi, ada kelompok yang menggunakan internet untuk belajar coding, riset investasi, atau memahami geopolitik. Di sisi lain, ada populasi masif yang terjebak dalam pusaran algoritma hiburan yang mematikan nalar. Dalam ilmu sosiologi, ada yang namanya Matthew Effect: yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Tapi yang sedang terjadi saat ini bukan cuma soal uang. Apakah kita sadar bahwa kita mungkin sedang menyaksikan umat manusia terbelah menjadi dua kelas kognitif yang berbeda?

IV

Di sinilah letak realitas pahitnya. Ketimpangan akses informasi yang berkualitas perlahan sedang menciptakan jurang kecerdasan populasi yang sangat brutal.

Algoritma media sosial dirancang oleh ribuan teknisi jenius dengan satu metrik utama: menahan perhatian kita selama mungkin. Mesin-mesin ini mengeksploitasi titik lemah psikologis kita. Bagi kelompok masyarakat yang sudah punya hak istimewa berupa pendidikan dasar yang kuat, mereka punya "antibodi" kognitif. Mereka tahu kapan sebuah informasi itu sampah, dan mereka tahu kapan harus mematikan layar.

Tapi bagi masyarakat di akar rumput? Bagi mereka yang akses pendidikan formalnya seadanya dan literasinya belum terbangun kokoh? Internet berubah menjadi mesin pembodohan massal.

Ini bukan karena mereka bodoh atau malas. Sama sekali bukan. Ini karena sistemnya memang sengaja didesain untuk membajak sistem dopamin mereka. Jadi, digital divide bukan lagi sekadar siapa yang punya akses internet. Ini adalah perampasan modal kognitif. Kemampuan berpikir kritis, fokus, dan analisis kini pelan-pelan menjadi barang mewah yang hanya dimiliki oleh kelas sosial tertentu. Algoritma membuat yang cerdas makin tajam, dan yang rentan makin tertinggal.

V

Tentu saja, menyadari fakta ini bisa membuat kita merasa campur aduk. Sangat mudah bagi kita untuk merasa frustrasi, atau bahkan merasa sedikit superior saat melihat orang lain termakan hoaks konyol atau kecanduan konten yang nirfaedah.

Tapi teman-teman, di sinilah empati kita diuji. Jangan hakimi mereka. Ingatlah bahwa sistem saraf mereka sedang bertarung—dan kalah—melawan mesin kecerdasan buatan bernilai triliunan dolar.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan bersama? Kita bisa mulai dengan merebut kembali kendali atas diet informasi kita sendiri. Jangan biarkan algoritma mendikte apa yang masuk ke kepala kita. Lalu, saat kita berdiskusi dengan orang yang mungkin "tertinggal" secara kognitif, gunakanlah kesabaran. Bagikan informasi dengan cara yang mudah dicerna tanpa harus merendahkan.

Kita tidak bisa membiarkan separuh dari masyarakat kita tertinggal dalam kegelapan di tengah era yang katanya paling terang ini. Kecerdasan sebuah peradaban tidak dinilai dari seberapa pintar segelintir kaum elitnya, melainkan dari bagaimana mereka mengangkat yang paling rentan. Teknologi seharusnya menjadi jembatan yang menyatukan, bukan tembok tak kasat mata yang membelah isi kepala kita.

Pertanyaannya sekarang untuk kita renungkan: di sisi tembok mana kita akan memilih untuk berdiri besok pagi?